Pemakaian obat pengontrol tekanan darah atau obat hipertensi, baik tunggal atau gabungan, jadi penentuan yang pantas diperhitungkan oleh dokter. Alasan itu sesuai Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019, yaitu pasien dengan tekanan darah lebih dari140 mmHg atau lebih 90 mmHg dibutuhkan inisiasi obat untuk turunkan tekanan darah.
Menurut Ketua Biasa Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) Tunggul Situmorang, konsensus penggunaan obat pengontrol tekanan darah disarankan dengan gabungan semenjak awal penyembuhan untuk sampai tekanan darah sesuai dengan sasaran.

Pengaturan tekanan darah sesuai dengan sasaran telah dapat dibuktikan, yang mana bisa menahan 35 – 40 % insiden stroke, 20 – 25 % serangan jantung koroner, serta lebih dari 50 % insiden tidak berhasil jantung. Hipertensi biasanya tetap dibarengi unsur efek lain, contoh diabetes serta cholesterol. Oleh karenanya, penyembuhan hipertensi tidak sekedar hanya turunkan tekanan darah, tetapi harus menyembuhkan unsur efek penyakit yang lain.
Kelompok Obat Hipertensi Untuk Turunkan Tekanan Darah
Ketetapan tentang penentuan kelompok obat yang akan dipakai harus merujuk pada bukti studi klinis yang telah ada (Evidence Base Medicine/EBM), yang diambil kesimpulan jadi Dasar Baku atau Konsensus. Dasar itu untuk pastikan kemanjuran (potency), keamanan (safety), serta tolerabilitas obat anti-hipertensi.
Salah satunya misalnya, pemakaian kelompok obat Calcium Kanal Blocker (Nifedipine OROS), baik jadi penyembuhan tunggal atau gabungan dengan obat anti-hipertensi lain memberi penyembuhan hipertensi yang efisien. Gabungan obat ini aman serta ditolerir secara baik buat pasien hipertensi.
Nifedipine dengan tehnologi OROS (Nifedipine OROS) ialah Nifedipine berteknologi Osmotic-controlled Release Oral delivery Sistem, yang sangat mungkin obat Nifedipine bertahan di pada tubuh sepanjang 24 jam dan jaga tekanan darah masih normal selama seharian.